"Kenapa ya Allah?"

|

Islamedia - Tak perlu bersusah payah untuk menguraikan berbagai kebaikan yang didapat dari sebuah nikmat. Tetapi bila datang sebuah musibah, hanya sedikit orang yang bisa mengambil hikmah di baliknya.

"Kenapa ya Allah?" Sebenarnya untuk apa pertanyaan seperti itu? Bukan Ia yang akan ditanyai, tapi manusia. "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai" (QS 21:23). Kalau tidak mampu menjabarkan hikmah yang didapat dari musibah, tak cukupkah berbaik sangka kepada Allah? ("Aku tergantung dengan prasangka hamba-Ku," Hadits Qudsi). Sehingga bila kita yakini Allah memberikan kebaikan di balik musibah, maka Allah akan menuruti prasangka kita - insya Allah.

Wajar bila manusia tidak mengerti kebijaksanaan Allah dibalik musibah. Karena manusia hanya diberi sedikit pengetahuan (QS Al-Isra’:85). Tapi yang keterlaluan adalah bila manusia mencoba menggurui Allah SWT. "Kok rusak sih, ya Allah? HP ini kan untuk keperluan dakwah juga!" "Ya Allah, terlalu cepat Engkau memanggil dia." Atau bahkan memvonis Allah ta’ala. "Engkau sudah tak sayang aku lagi, ya Allah…" Ah… manusia memang sering keterlaluan.

Subhanallah, Maha Suci Allah. Allah Maha Suci dari berbagai keburukan. Tak pantas ia dituduh begini begitu hanya karena kebodohan kita tak mampu memaknai musibah.

Dalam Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin menjelaskan tentang iman kepada qadar yang baik dan buruk: "Tiada keburukan dalam perbuatan Allah. Semua amal perbuatan Allah adalah baik dan bijaksana. Akan tetapi, keburukan itu pada apa-apa (objek) yang dilakukan dan apa-apa yang diberi ketentuan. Oleh sebab itu, Nabi Shalallahu Alaihi wa salam bersabda, "Sesuatu yang buruk tidak ditujukan kepada-Mu." (HR Muslim)"

*****

Manusia cuma bisa mencoba menyelidiki latar belakang kebijaksanaan atas suatu keputusan Allah swt, dengan segala keterbatasan ilmunya. Tapi manusia tidak akan bisa memastikan hasil penyelidikan itu.

Perintah sholat 5 waktu sedikit banyak akan membebani seorang muslim. Begitu juga perintah zakat, puasa, haji, jihad, silaturahim, dsb. Tetapi orang yang beriman tak pernah berhenti menarik hikmah di balik semua perintah itu. Contohnya pada sholat subuh, orang-orang akan menguraikan betapa sholat subuh itu baik untuk kesehatan, bisa berfungsi sebagai kontemplasi, dsb. Sungguh pun begitu, tetap tidak akan bisa menjawab secara pasti mengapa Allah memerintahkan sholat subuh.

Pada akhirnya, husnuzhon billah (berbaik sangka pada Allah) adalah muara penghambaan yang hakiki. Baik hukum syar’i (sholat, puasa, zakat, dsb) maupun hukum kauni (setiap peristiwa yang Allah kehendak pada manusia) pasti ada kebijaksanaan Allah swt di balik itu semua.

Masih dalam syarah Aqidah Al-Wasithiyah, "Perhatikan kebijaksanaan Allah dalam hukum kauni-Nya, dimana Dia ta’ala menimpakan berbagai musibah besar kepada manusia untuk berbagai tujuan yang mulia. Seperti firman Allah ta’ala,

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada jalan yang benar)" (QS Ar-Ruum: 41)."

Dalam ayat ini ada sanggahan atas ucapan orang yang mengatakan "Sesungguhnya hukum-hukum Allah itu bukan atas dasar kebijaksanaan, tetapi sekedar karena kehendak-Nya."

*****

Keimanan menghasilkan ketenangan. Dalam menjalakan hukum syar’i, iman yang kuat menjalaninya dengan mantap karena keyakinan bahwa itu semua telah Allah gariskan dengan kebijaksanaan-Nya. Dalam menerima setiap peristiwa (hukum kauni), segalanya baik karena ada keyakinan bahwa Allah Maha Bijaksana atas setiap perbuatan-Nya. "Sungguh ajaib urusan orang mukmin itu, sesungguhnya segala urusannya baik baginya. Dan itu tidak ada kecuali bagi mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa musibah/bencana, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Dan masih dalam Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Sholih Utsaimin menjelaskan: "Firman Allah ta’ala "Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?" (At-Tiin:8); mencakup hukum kauni dan syar’i. Allah Azza wa Jalla Maha Bijaksana dengan hukum kauni dan hukum syar’i. Dia Ta’ala juga teliti terhadapnya. Maka masing-masing dari dua hukum itu sejalan dengan hikmah ‘kebijaksanaan’.

Akan tetapi sebagian hikmah itu kita mengetahuinya dan sebagian lagi kita tidak mengetahuinya, karena Allah ta’ala berfirman:
"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit." (QS Al-Isra’: 85)

Kemudian hikmah ‘kebijaksanaan’ itu ada dua macam:
1. Kebijaksanaan dalam kondisi sesuatu sesuai dengan kenyataan dan keadaannya. Seperti keadaan sholat. Dia adalah ibadah besar yang didahului dengan bersuci dari hadats dan najis dan dialaksanakan dengan gerakan tertentu berupa berdiri, duduk, ruku’, dan sujud. Juga seperti zakat. Dia adalah ibadah demi Allah dengan menunaikan sebagian harta yang berkembang pada umumnya kepada orang yang sangat membutuhkan kepadanya. Atau pada kaum muslimin ada hajat kepada mereka serta sebagian orang-orang mu’allaf.

2. Kebijaksanaan dalam suatu tujuan hukum. Di mana semua hukum Allah ta’ala memiliki tujuan-tujuan mulia dan buah-buah yang terpuji."

Begitulah. Di dalam perintah sholat, semua syarat dan rukunnya adalah bentuk kebijaksanaan Allah swt. Dan kebijaksanaan Allah juga terdapat dalam tujuan Allah memerintahkan sholat kepada manusia.

Hikmah kebijaksanaan itu ada yang dikabari-Nya, seperti dalam firman-Nya: "Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS 2:179) Dan juga ada yang tidak dikabari, namun orang yang berakal mampu menjabarkannya dengan baik.

Husnuzhon-lah kepada Allah swt. Tak perlu nada protes menjerit, "Kenapa ya Allah?"

(andaleh)

Artikel Terkait