Fahri, KPK dan Bangsa yang Tak Hobi Mengunyah
Islamedia - Betapa dahsyatnya pengaruh media terhadap pembentukan opini
publik kian tak terbantahkan, Senin, 3 Oktober lalu. Kala itu, dalam pertemuan
antara Komisi III DPR, KPK, Kejagung dan Polri, sebuah pernyataan untuk
membubarkan KPK dilontarkan Wakil Ketua Komisi III Fahri Hamzah. Usai itu,
berbagai media cetak dan online ramai memberitakan. Fahri menjadi newsmaker.
Bahkan, di www.detik.com, berita Fahri bersaing dengan Ayu Ting-Ting, pelantun lagu Alamat Palsu.
PKS pun terkena imbasnya. Keberadaan Fahri sebagai wakil
sekjen PKS membuat media mengopinikan jika wacana pembubaran KPK didukung PKS.
Simak beberapa judul berikut ini. Busyro:
Silakan Kalau PKS Mau Membubarkan KPK (www.detik.com), Tifatul Sembiring: Tidak Benar PKS Anti KPK (www.vivanews.com), "Jika PKS Tak Membantah, Usul Fahri Mewakili Partai" (www.okezone.com), Busyro Persilakan F-PKS Bubarkan KPK (www.kompas.com).
Seketika, publik pun menghakimi PKS. Kata-kata makian, hinaan
yang tak pantas memadati ruang publik. Pembunuhan karakter terhadap Fahri dan
PKS berlangsung massif. Publik percaya bahwa PKS kini telah berubah. PKS sudah
menjadi pembela koruptor, tak ada bedanya dengan partai lain. “Yang harus
dibubarkan PKS, bukan KPK,” tulis seseorang di dunia maya.
Publik begitu mudah tergiring opininya. Hanya dengan satu dan
dua berita, masyarakat segera percaya dengan apa yang diwartakan media.
Fenomena ini sungguh mengkhawatirkan karena tak cuma Fahri dan PKS yang
mengalaminya. Mengapa bisa terjadi?
Salah satu sebabnya karena kita yang tak hobi mengunyah.
Setiap informasi yang kita dengar dan baca, langsung ditelan mentah-mentah.
Bahkan, oleh orang yang terpelajar (well
educated) sekalipun. Dalam konteks kasus Fahri, jika publik mau mengunyah
berita sedikit saja, pasti tak serta merta berpikiran negatif terhadap PKS.
Sedikitnya ada dua hal yang dapat membuat kita beropini positif seandainya kita
hobi mengunyah.
Pertama, ibarat abjad A-Z, statement Fahri tentang pembubaran KPK adalah Z. Sebelum sampai Z,
Fahri menjelaskan alasannya mengapa KPK perlu dibubarkan, dan itulah A sampai
Y. Media hanya memuat pernyataan Fahri sepotong-sepotong; tak utuh. Dalam acara
Jakarta Lawyers Club, bulan lalu, Fahri secara baik menjelaskan tentang
persoalan KPK. Paparannya sangat runut, sistematis dan detail. Bahkan Karni
Ilyas yang biasanya memotong pembicaraan, terlihat diam menyimak penjelasan
Fahri.
Kedua, jika publik langsung memvonis bahwa PKS mendukung
korupsi dan takut pada KPK, tentu saja sebuah kekeliruan besar. Kesimpulan itu
berangkat dari data dan fakta yang keliru. Pangkalnya karena kita yang tak suka
mengunyah.
Benarkah PKS takut KPK? Benarkah PKS mendukung koruptor? Itu
semua terbantahkan dengan mudahnya. Pertanyaannya, adakah kader PKS yang
menduduki jabatan publik menjadi koruptor dan menginap di hotel prodeo?
Kalaupun ada, berapa persentasenya jika dibandingkan dengan kader partai lain?
Sejauh ini, kalaupun ada kader PKS yang menjadi terdakwa
korupsi, sangat semerbak aroma politiknya.
Kasus Misbakhun, misalnya. Kegigihannya mengusung kasus Century membuat
ia harus berhadapan dengan penguasa. Muaranya, ia pun menjadi pesakitan.
Adakah kader PKS yang tertangkap tangan sedang menerima suap?
Adakah yang tertangkap basah KPK? Adakah yang secara terang-benderang maupun
tersembunyi melakukan korupsi seperti yang dilakukan kader partai lain? Sejauh
ini nihil. Dan saya mengamati, insya Allah kader PKS akan istiqomah.
Data dan fakta ini sesungguhnya dengan sangat mudah
mematahkan kesimpulan jika PKS anti KPK. Logikanya, partai yang kadernya paling
banyak ditangkap KPK-lah yang seharusnya berteriak pembubaran KPK. Lalu mengapa
Fahri mewacanakan hal tersebut?
Saya melihat ini cerminan partai yang punya karakter kuat;
jati diri yang kokoh dan berani mengambil resiko karena tak populer. Fahri dan
PKS berani menentang arus. Betapa saat ini jutaan orang berada di belakang KPK.
Tak kecuali kader partai dan orang-orang yang bermasalah. Dengan cara itu,
mereka berharap dicitrakan sebagai pembela kebenaran, orang bersih dan jujur.
KPK seolah menjadi sarana bagi mereka untuk melakukan personal dan institution laundring.
Tapi PKS justru berbeda. Dan bukan asal beda karena memang ada banyak hal yang
harus dikritisi dari KPK.
KPK memiliki tugas antara lain:
1) Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi;
2) Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi;
3) Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
4) Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi; dan
5) Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
Sudah delapan tahun KPK berdiri, tapi tugas-tugas tersebut
masih belum maksimal dilaksanakan.
Bangsa ini masih menjadi juara korupsi baik tingkat ASEAN maupun Asia
Pasifik. Mengapa? Karena KPK sibuk dengan tindakan “tangkap basah”. Negeri ini
menjadi gaduh. KPK seakan seperti polisi yang bersembunyi dibalik pohon agar
bisa menilang pengendara motor atau mobil
yang tak mentaati rambu lalu lintas.
Sejatinya, inilah yang hendak disampaikan oleh Fahri dan PKS.
Partai ini siap menerima kecaman demi pembelajaran politik bagi masyarakat.
Partai ini siap menerima hujatan demi pencerdasan bangsa. Dan partai ini siap
menerima resiko terburuk agar publik mau mengunyah setiap berita yang
diterimanya; bukan langsung ditelan mentah-mentah.
Wallahu a’lam.
Erwyn Kurniawan, S.IP Pemerhati Media)
