Akmal: “#IndonesiaTanpaJIL Semakin Diperhitungkan”

|

Islamedia - Halal Bihalal #IndonesiaTanpaJIL se-Jabodetabek yang digelar pada hari Ahad, 9 September 2012, memberikan kesan tersendiri bagi Akmal Sjafril. Penulis buku Islam Liberal 101 ini merasa optimis bahwa #IndonesiaTanpaJIL akan mampu menjelma menjadi sebuah gerakan nasional yang diperhitungkan oleh semua pihak.
  
“Saya sudah lama memiliki akun Twitter, namun baru pada tahun 2009 benar-benar berkecimpung di sana. Keterlibatan saya di Twitter sebenarnya adalah karena ‘panggilan’ seorang teman yang melihat bahwa para aktivis JIL banyak sekali mempropagandakan pemikirannya melalui Twitter,” kenang Akmal ketika menjelaskan sepenggal sejarah kelahiran #IndonesiaTanpaJIL. “Setelah saya mulai melawan pemikiran Islam liberal di Twitter, dalam waktu singkat saja dukungan bermunculan dari sana-sini. Gerakan yang tadinya bermula di dunia maya, kini berwujud di dunia nyata. Sekarang, jumlah aktivis #IndonesiaTanpaJIL se-Indonesia sudah ratusan.”
  
Buku Islam Liberal 101 sendiri memiliki peranan yang unik dalam sejarah #IndonesiaTanpaJIL. Beberapa pihak menganggap bahwa penulisan dan penyebaran buku ini turut mengobarkan perlawanan terhadap Islam liberal di dunia maya. Buku yang sudah dicetak ulang lima kali dalam kurun waktu kurang dari dua tahun ini memberikan gambaran yang jelas terhadap pola pemikiran para aktivis Islam liberal. Itulah sebabnya banyak orang yang salah menyangka Akmal sebagai pemimpin gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Dari kalangan pendukung Islam liberal, tidak sedikit yang mengolok-olok dengan mengatakan bahwa #IndonesiaTanpaJIL didirikan sekedar untuk melancarkan penjualan buku Islam Liberal 101.
  
“Kalau sering berhadapan dengan kaum liberalis ini, kita akan terbiasa dengan fitnah dan olok-olok. Mereka kira, dalam setiap kegiatan #IndonesiaTanpaJIL, aktivisnya dibayar dengan dana dari Saudi, semuanya dapat duit, dan semuanya wajib beli buku Islam Liberal 101. Tapi itu kan cara mereka, bukan cara kita,” demikian ungkap Akmal.
  
Gerakan #IndonesiaTanpaJIL, menurut Akmal, adalah gerakan yang bottom-up, bukan top-down. Artinya, gerakan ini berdiri dari bawah, bukan disemai dari atas. Maju-tidaknya gerakan ini, lanjut-berhentinya pergerakannya, semuanya ditentukan oleh para aktivisnya sendiri. Oleh karena itu, #IndonesiaTanpaJIL dapat dengan mudah berdiri di berbagai daerah, dengan dukungan penuh dari para pemuda Muslim yang peduli dengan agamanya sendiri.
  
“Bagi kalangan Islam liberal, uang memang tidak pernah jadi masalah, bahkan uanglah satu-satunya yang bukan masalah bagi mereka. Tapi apalah artinya dana yang besar di tangan kelompok yang pengecut dan pemalas? Lihatlah gembar-gembor gerakan ‘Indonesia Damai Tanpa FPI’ yang mereka besar-besarkan sebelumnya. Ketika diajak berpanas-panas dalam demonstrasi di Bundaran HI, yang datang cuma puluhan orang! Itulah gerakan dengan dana besar tapi minus semangat jihad dan pengorbanan. Sebaliknya dengan #IndonesiaTanpaJIL. Meski tidak punya daftar donatur yang panjang, tapi semua kebutuhan kita penuhi sendiri. Karena para aktivisnya bersemangat jihad, berlomba-lomba untuk berkorban,” kata Akmal ketika mengobarkan semangat para peserta Halal Bihalal.
  
Dalam acara sharing non-formal ba’da Ashar, Akmal pun menyatakan keyakinannya bahwa #IndonesiaTanpaJIL kini sudah makin diperhitungkan, terutama oleh kalangan Islam liberal sendiri. Bahkan tanda-tanda akan hal tersebut sudah terlihat pada acara Halal Bihalal itu.
  
“Setelah Shalat Ashar tadi, saya didatangi oleh seorang kru KBR68H dan diwawancarai tentang kegiatan Halal Bihalal ini dan juga tentang jati diri #IndonesiaTanpaJIL secara umum. Itu artinya, #IndonesiaTanpaJIL sudah ‘masuk ke dalam radar mereka’,” ujar Akmal. KBR68H memang selama ini dikenal sebagai stasiun radio yang merupakan ‘corong’ Jaringan Islam Liberal (JIL) untuk menyampaikan semua kegiatan dan mempropagandakan pemikiran-pemikirannya.
  
Sekretariat Pusat #IndonesiaTanpaJIL, yang juga diresmikan dalam perhelatan Halal Bihalal 9 September 2012 yang lalu, memang terletak persis di depan Komunitas Utan Kayu (KUK) yang berlokasi di Jl. Utan Kayu No. 68H. Di sinilah pada awalnya terletak stasiun radio KBR68H, sebelum dipindahkan belum lama ini ke lokasi yang hanya berjarak beberapa rumah saja dari tempat asalnya.

Artikel Terkait